Artikle Ilmiah

DARI DARU AL-HARBI KE DARUSSALAM (Refleksi 58 Tahun Hardikda Aceh, 2 September 1959 - 2 September 2017)
Oleh : Nazarullah, S. Ag, M. Pd - 07 September 2017



Sejarah yang tidak bisa dilupakan oleh masyarakat Aceh untuk selama-lamanya adalah pendirian dua Perguruan Tinggi ternama di Aceh yaitu Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry dan Universitas Syiah Kuala yang diresmikan langsung oleh Presiden Soekarno. Lahirnya dua Perguruan Tinggi ini tidak lepas dari upaya perdamaian antara DI-TII Aceh dengan Perintah Indonesia.

Dibangunnya Perguruan Tinggi ini sebagai Jantong Hate (Jantung Hati) rakyat Aceh merupakan implementasi dari salah   Keistimewaan Aceh yaitu di bidang pendidikan pasca Turun Gunung DI-TII. Terobosan dan gagasan ini sarat makna yang sangat dalam. Aceh yang dulunya dijuluki Darul Harbi (Wilayah ), diupayakan menjadi Wilayah Damai (Darussalam).

Upaya untuk mewujudkan Lembaga Pendidikan Tinggi ini, dinakhodai oleh Bapak Pendidikan Aceh yaitu Prof. Ali Hasyimy. Sehingga, dengan berdirinya IAIN Ar-Raniry dan Unsyiah pada tanggal 2 September 1959, maka sejak saat itulah muncul istilah Hari Pendidikan Daerah Istimewa Aceh yang sering kita sebut dengan HARDIKDA.

Ada keunikan tersendiri bagi masyarakat Aceh saat itu. Uniknya, di daerah lain mungkin hanya dikenal adanya Hardiknas yang selalu diperingati pada tanggal 2 Mei. Tapi untuk masyarakat Aceh, di samping adanya peringatan Hardiknas pada bulan Mei, juga pada 2 september
 Hari Pendidikan Daerah Aceh (Hardikda).

Dibangunnya Perguruan Tinggi di Aceh saat itu, tersirat sebuah harapan untuk membangun Aceh yang lebih baik kedepan dengan upaya mencerdaskan pemuda-pemuda Aceh lewat jalur pendidikan. Aceh harus dibenah, Aceh harus ditata lebih baik agar  tidak tertinggal dari daerah-daerah lain di Indonesia. Hasilnya sangat luar biasa. Sejak saat itu, dengan dua Perguruan Tinggi ini, selain melahirkan generasi Aceh yang cerdas, juga membawa harum nama Aceh keluar negeri. Sehingga banyak Pemuda-pemuda negara tetangga yang menuntut ilmu di Aceh dan juga dari daerah-daerah lain di Indonesia.

Sekedar Dapat Ijazah

Ketenaran dan kehebatan dua Perguruan Tinggi di Aceh, yaitu Ar-Raniry dan Unsyiah, telah melahirkan tokoh-tokoh pendidikan bahkan tokoh-tokoh pemimpin dan pemikir untuk kemajuan negara Kesatuan Republik Indonesia. Bahkan, out-put dari dua lembaga ini, telah banyak melahirkan sarjana yang siap dipakai dimana saja. Hal ini menandakan bahwa, Lembaga Pendidikan ini menjadi lembaga yang diperhitungkan. Sarjana yang dilahirkan, merupakan sarjana yang benar-benar siap dan cakap.

Pertanyaannya serkarang, apakah saat ini hasil didikan dari dua Perguruan Tinggi ini tidak lagi secerdas dulu? Mungkin untuk menjawab pertanyaan ini butuh kajian yang mendalam. Bisa jadi out-putnya tidak lagi seperti yang dulu, atau mungkin kesalahannya ada pada pemerintah yang tidak mencitkan lahan pekerjaaan, sehingga terkesan hari ini, mahasiswa yang menimba ilmu di Perguruan Tinggi kebanggan Masyarakat Aceh, hanya untuk memperoleh selembar ijazah, tapi tidak siap berkiprah atau menciptakan lapangan kerja.

Setelah mereka mendapatkan ijazah, mereka hanya bisa berharap untuk dapat diangkat menjadi PNS, dan tidak lebih dari itu. Alhasil, lahirlah pengangguran intelektual di mana-mana. Saat pemerintah membuka pendaftaran penerimaan calon PNS, dengan beemodalkan selembar ijazah, ribuan sarjana lepasan dua lembaga ini, mengadu nasib dan berjibaku dengan alumni Perguruan Tinggi lainnya untuk bisa lolos seleksi PNS.

Sarjana-sarjana ini, hanya bisa berharap diangkat menjadi ASN. Mereka dianggap berhasil dan cerdas dari dua Perguruan Tinggi ini, apabila lulus seleksi penerimaan calon PNS. Tapi bila gagal masuk PNS, maka dianggaplah sarjana-sarjana ini sarjana gagal produk alias "Hana Roh Saho".

Ironis memang, tapi apa hendak dikata. Kebanyakan mahasiswa ini sangat tergantung untuk berharap diangkat jadi PNS. Setelah diwisuda, mereka tidak mampu menciptakan lapangan kerja sendiri. Dan ini barangkali disebabkan oleh ketidaksiapan Perguruan Tinggi ini, untuk mendidik mahasiwanya cerdas dari sisi Soft Skill. Sehingga saat mereka mendapat gelar kesarjanaannya, sarjana ini berobah status menjadi " sarjana pengangguran".

Banda Aceh, 7 September 2017

* Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh.

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang