Artikle Ilmiah

GURU, PELUKIS WAJAH MASA DEPAN BANGSA
Oleh : Nazarullah, S. Ag, M. Pd - 18 August 2017



Dirgahayu Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-72. W. R. Soepratman Berpesan: “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya, untuk Indonesia Raya”. Bangsa yang baik merupakan representasi manusia yang berbudaya (ber-tamaddun), bijak, maju dan berperadaban tinggi serta menjadi teladan bagi masyarakat yang lain, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi bahkan dari segi akhlak atau perilaku. Untuk melahirkan manusia yang berbudaya tentulah membutuhkan proses yang panjang lewat pendidikan yang serius dan bersahaja yang ditangani oleh tenaga pendidik (Guru) profesional di bidangnya masing-masing.

Guru adalah orang yang sangat berjasa dalam mendidik anak-anak manusia setelah masa kanak-kanaknya. Novia (2010: 7) menjelaskan: “Menjadi guru itu seperti cahaya yang tinggi, ia akan menerangi penghuni rumah, jika di tonggak listrik, dia menerangi pencari jalan, meski hanya sekelip bintang kecil di langit tinggi, ia adalah pedoman bagi pengharung samudra”.

Oleh karena itu, seorang guru akan selalu menjadi lampu, cahaya dan sinar yang sangat tinggi nilai keberadaannya terhadap pembentukan sikap dan kepribadian murid. Guru bagaikan pelita bagi peserta didik dalam menjalankan segala aktivitas mereka. Keteladanan guru bagi peserta didik adalah segala-galanya. Murid akan senantiasa memperhatikan setiap langkah dan gerak gurunya, sehingga akan menjadi idola serta uswah dalam perjalanan hidup mereka.

Melalui pendidikan, guru harus mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya pikir atau penalaran sedemikian rupa, sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif dalam proses transformasi kebudayaan ke arah keadaan lebih baik, demi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh masyarakat dimana dia hidup. Jadi, untuk menciptakan generasi yang beradab, maka guru itu harus bisa berperan sebagai model atau contoh bagi peserta didik. Sebab, guru adalah elemen yang penting dan bertanggungjawab terhadap upaya memanusiakan manusia melalui proses pendidikan dan pengajaran.

Oleh karena itu, tingkah laku pendidik harus sesuai dengan norma-norma kehidupan yang dianut oleh masyarakat. Khalifah dan Quthub (2009: 9) menulis tentang guru:

Guru adalah orang yang bersamudrakan ilmu pengetahuan. Ia adalah cahaya yang menerangi kehidupan manusia, ia adalah musuh kebodohan, dan penghapus kejahiliahan. Ia juga yang mencerdaskan akal dan mencerahkan akhlak. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk memuliakan sang guru dan menghargainya. Karena, ia adalah pembawa risalah yang paling mulia yaitu risalah ilmu dan pendidikan yang dibawa oleh Nabi dan utusan Allah yang terakhir, Muhammad SAW.

Dalam mengimplementasikan  kepribadian yang terpuji, guru punya peranan strategis di lembaga pendidikan/madrasah, sebagai teladan  sekaligus pengasuh yang sabar dan telaten dalam  melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai  pendidik. Sebagai orang yang berilmu, guru merupakan profesi yang sangat mulia dan paling agung dibandingkan dengan profesi lainnya.

Menjadi seorang guru tidaklah mudah, karena guru itu mempunyai banyak peran yaitu; guru sebagai pengajar, pendidik, pembimbing dan juga pemimpin. Bahkan bagi murid-muridnya, seorang guru itu harus bisa menjadi teladan bagi mereka.  Guru adalah ruh dalam proses pendidikan. Guru adalah asas dan batu pondasi dalam sistem pendidikan, dan guru adalah penyebab kesuksesan masyarakat hingga mereka mendapatkan kemuliaan berupa kemajuan di antara bangsa-bangsa lain.

 

Guru Sebagai Kreator

Generasi sebuah bangsa, sangat ditentukan oleh pendidik (guru). Perkembangan akhlak sejak usia dini bagi anak-anak memerlukan dorongan dan rangsangan sebagaimana pohon memerlukan air dan pupuk. Minat dan cita-cita anak perlu ditumbuhkembangkan ke arah yang baik dan terpuji melalui pendidikan yang bersahaja dan serius. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang bisa merobak sikap dan watak peserta didik. Oleh karena itu dibutuhkan guru yang berjiwa pendidik dan berakhlaqul karimah, supaya segala gerak-geriknya dapat menjadi teladan dan cermin bagi murid-muridnya.

Dari pernyataan ini dapat dapat dipahami bahwa keberadaan seorang guru tidak hanya sekedar masuk kelas semata tapi harus bisa mengoptimalkan dirinya untuk membentuk peserta didik ke arah yang lebih baik. Oleh karena itu, pendidik itu tidak hanya sekedar mengajar tapi juga harus bisa mendidik muridnya agar menjadi manusia yang paripurna. Untuk membentuk peserta didik yang lebih baik, maka semestinya murid-murid dalam lembaga pendidikan itu ditangani oleh pendidik dan bukan pengajar yang hanya sekedar menuntaskan kurikulum  yang dosodorkan oleh pemerintah dan hanya sekedar menyampaikan materi pelajaran.

Dalam sebuah lembaga pendidikan, guru adalah orang yang paling besar jasanya dalam membentuk peserta didik. Sebagai kreator, guru harus berupaya keras untuk menjadikan muridnya sebagai individu yang luar biasa yang jauh dari unsur-unsur kebodohan. Dalam pendidikan, guru adalah orang yang bertanggungjawab terhadap perkembangan peserta didik dengan upaya mengembangkan seluruh potensi siswa, baik potensi afektif (rasa), kognitif (cipta), maupun psikomotor (karsa). Oleh karena itu, di tangan pendidiklah, anak manusia akan menemukan jati dirinya yang sebenarnya sebagai manusia yang bertanggungjawab dan sebagai khalifah di permukaan bumi ini.

 

Pribadi yang Berkarakter

Tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang paripurna. Oleh sebab itu, diharapkan sistem pendidikan yang ada di Indonesia saat ini tidak hanya mengedepankan sisi akademik saja, melainkan juga harus diperhatikan  soft skill, attitude, dan communication skill. Hal ini agar dapat menghasilkan Out Put  yang berkarakter dan berkualitas dari sistem pendidikan yang ada.

Sekedar untuk jadi bahan renungan bagi kita semua bahwa, tidak ada di Indonesia ini anak yang bodoh, hanya saja mereka tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar dengan metode yang benar, guru yang ter-baik, dan kurikulum yang sistematis. Bila saja anak-anak Indonesia ditangani oleh pendidik yang cerdas dan terbaik, maka besar kemungkinan anak-anak Indonesia ini, bisa bersanding dengan negara-negara lain di dunia dari sisi kemampuan Kognitif dan skill.

Ironisnya, setelah gagal ditangani oleh guru-guru terbaik, lulusan pendidikan di Indonesia malah tidak bisa melahirkan generasi yang berkarakter dan berakhlak mulia. Buktinya, lihat saja keadaan bangsa Indonesia saat ini. Dekadensi moral di mana-mana, korupsi merajalela, begal motor yang muncul seperti jamur di musim hujan,  tata kelola pemerintahan yang bekerja hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan serta  praktik politik yang tidak sehat.

Diakui atau tidak, pendidikan di Indonesia telah gagal melahirkan pribadi-pribadi yang berkarakter dan berakhlak mulia. Pejabat yang hipokrit muncul hampir di seluruh daerah. Dendam dalam birokrasi pemerintahan dan swasta dijadikan sebagai pakaian dalam kehidupan saat mengambil kebijakan. Kalau ini masih terus terjadi, besar kemungkinan, generasi ke depan dari bangsa Indonesia ini akan menjadi generasi minus akhlak dan karakter yang lahir dari rahim pendidikan kita yang salah urus. Semoga saja, lembaga pendidikan Indonesia masih ada guru-guru yang mampu membentuk peserta didik ke arah yang lebih baik, karena guru adalah pelukis wajah bangsa Indonesia ke depan.

 
- Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh.

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang