Artikle Ilmiah

KIAT-KIAT MENJADI WIDYAISWARA YANG SUKSES
Oleh : Nazarullah, S. Ag, M. Pd - 05 October 2017



Kita sering mendengar kata Widyaiswara, tapi tidak semua orang tahu apa itu profesi Widyaiswara. Berbeda halnya bila disebut profesi Guru atau Dosen, orang yang mendengar dua kata tersebut akan langsung terbayang kepada dua profesi itu. Malah jangan-jangan, ada sebagian orang yang mendengar kata "Wiyaiswara" justru terbayang dengan satu kata lain yaitu "Widyaisnulis". Bertuusss... Tuss...

Tugas Widyaiswara menurut Peraturan  Menpan 14 tahun 2009  adalah Mendidik,  mengajar, dan atau  Melatih PNS pada Lembaga  Diklat Pemerintah. Karena yang diajarkan dan dilatih adalah PNS dengan pembelajaran Andragogik, sudah semestinya seorang Widyaiswara harus mempersiapkan diri baik-baik sebelum belajar agar kegiatan Pembelajaran berjalan dengan sukses. Beberapa Hal yang dilakukan  agar  menjadi widyaiswara sukses adalah:

Pertama: Siapkan Laptop dengan batre yang penuh (Full),  agar saat mengajar laptop seorang widyaiswara yang profesional sehat dari kelemahan batre.

Kedua: Pastikan Charger yang dibawa ke Lokasi Diklat tidak salah merek alias sesuai dengan Laptop yang digunakan, agar saat daya batre lemah, bisa langsung dicas ulang.

Sangat naif, bila seorang widyaiswara yang mengajar, baru lima menit tampil di depan peserta, tiba-tiba laptopnya "Low Batt", lalu dipasang charger, ternyata chargernya juga salah bawa karena yang terbawa adalah "Charger Suami". Bila ini terjadi, maka peserta diklat akan beranggapan bahwa widyaiswara tersebut tidak siap untuk mengajar.

Ketiga: Lihat dan periksa Slide sebelum tampil, agar pada saat mengajar jangan salah judul. Contoh: Mengajar di kepala MI, malah tertulis "Selamat datang Kepala RA". Duh malunya.....

Keempat: Hindari Copy Paste dari bahan tayang (Slide) orang lain, persis sama isi dan sama titik serta koma agar menjadi WI yang profesional. Jaman Gini masih Curi bahan tayang? Malu-malui dech, apalagi bila terjadi pada Widyaiswara senior tempat MAGANG Widyaiswara Yunior.

Kelima: Perlakukan peserta diklat sebagai Pembelajaran Orang Dewasa (POD). Jangan marah-marah dan jangan pernah membuat malu peserta diklat di depan peserta lain, karena mereka bukan anak SD/MI.

Keenam: Seorang Widyaiswara yang Profesional, Jangan terlalu Cinta sama Kursi duduk. Artinya, jangan biasakan saat mengajar, sering sambil duduk daripada berdiri apalagi saat mengajar di depan peserta diklat dengan duduk dikursi sambil melipat Kaki.

Ketujuh: Jangan Berpikiran Negatif. Galileo pernah berkata: "Hati-hati dengan pikiran anda". Maksudnya adalah, hati-hati dengan pikiran negatif. Saat kita mengajar, ternyata suasana kelas dan peserta tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan.

Bila kita berfikiran negatif, apapun yang terjadi dan dilakukan peserta Diklat dalam kelas, akan terfikirkan oleh kita hal-hal yang jelek. Oleh karena itu, gunakan ungkapan: "Kita tidak sanggup merobah prilaku orang lain, tapi kita masih bisa mengendalikan pikiran kita".

Bila di dalam kelas ada peserta yang membuat ulah dan kita berfikiran negatif dengan beranggapan bahwa peserta itu menjengkelkan, ubahlah fikiran kita dengan ungkapan "Peserta ini butuh metode belajar yang berbeda".

Kedelapan: Kedepankan Budaya Malu. Malu masuk telat, malu cepat keluar kelas dan malu tidak mengajar tapi mengotak ngatik Jadwal dengan merobah Jam Mengajar orang lain untuk kita ganti menjadi jam mengajar kita pada saat membuat laporan naik pangkat atau usulan KJM.

Inilah beberapa kiat yang bisa kita sumbangkan untuk rekan-rekan Widyaiswara, sukses selalu, semoga menjadi Widyaiswara yang disenangi oleh peserta diklat.

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang