Artikle Ilmiah

Pemimpin yang Bau Parfum
Oleh : Nazarullah, S. Ag, M. Pd - 21 August 2017



- مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ التَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِى يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْفَاجِرِ الَّذِى لاَ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ طَعْمُهَا مُرٌّ وَلاَ رِيحَ لَهَا وَمَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَىْءٌ أَصَابَكَ مِنْ رِيحِهِ وَمَثَلُ جَلِيسِ السُّوءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْكِيرِ إِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ أَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ

 “Orang mukmin yang membaca Al-Quran ibarat jeruk manis, baunya harum dan rasanya enak. Orang mukmin yang tidak membaca Al-Quran ibarat kurma, rasanya enak tapi tidak ada baunya. Orang munafik yang membaca Al-Quran, ibarat minyak wangi, baunya harum tapi rasanya pahit. Sedangkan orang munafik yang tidak membaca Al-Quran ibarat buah kamarogan (Handhalah), tidak ada baunya dan rasanya pahit. ( H. R. Bukhari dan Muslim)

Menurut Prof. Dr. Ali Mustafa, yang dimaksud dengan muslim jeruk manis adalah “Orang Islam yang membaca dan  juga hafal Al-Quran , memahami  isi  kandungannya  serta juga mengaplikasi  perintah Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Muslim kurma adalah orang Islam  yang  mengamalkan  ajaran Al-Quran kendati tidak hafal Al-Quran. Muslim minyak wangi adalah  orang Islam yang  bisa baca Al-Quran, menghafalnya tapi tidak mau mengamalkan  ajaran Al-Quran. Sedangkan  muslim  buah kamarogan  adalah  muslim yang tidak pernah membaca Al-Quran dan tidak pula mengamalkan isinya”.

Dari empat  tipologi  muslim itu,  penulis  mencoba menyampaikan kepada para pembaca, bahwa muslim  parfum atau muslim minyak wangi-lah  yang paling banyak kita dapatkan di negara kitaIndonesia. Minyak wangi itu baunya enak dicium tapi pahit kalau dirasakan.  Artinya, ummat Islam  yang ada di Indonesia, umumnya bisa membaca Al-Quran, indah  melantunkan  ayat-ayat  Al-Quran bahkan  dengan  suara yang sangat merdu bahkan mendapatkan penghargaan peserta terbaik tingkat Internasional. Di negara kita,  ada mahasiswa dan  masyarakat Indonesia yang  bisa  hafal  Al-Quran sampai dengan 30 Juz.  Namun  ironisnya, sedikit  sekali yang  mengamalkan  ajaran-ajaran  Al-Quran itu sendiri.

Islam melalui sunnah dan tradisi Nabi Muhammad SAW, menganjurkan ummatnya untuk menjaga kebersihan, baik kebersihan diri maupun kebersihan lingkungannya. Salah satu cara untuk menjaga kebersihan diri sebagaimana ditekankan Rasulullah SAW, adalah dengan menjaga aroma tubuh agar tetap wangi. Hal ini untuk memastikan seorang muslim identik dengan kesegaran dan kewangian.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Anas bin malik yang berkata: “Aku tidak pernah mencium wewangian atau minyak wangi yang berbau lebih harum daripada keharuman Rasulullah SAW”. Jadi minyak wangi bagi orang Islam adalah sebuah anjuran agar dia kelihatan segar dan bersih.

Minyak wangi (Parfum) memang sangat menggoda bagi siapa saja yang menciumnya. Wangi parfum akan menutupi bau badan yang sebenarnya bagi seseorang. Bila parfum telah ditaburkan, maka orang yang ada di sampingnya akan merasa nyaman dan tergoda.

Muslim parfum yang ingin penulis angkat di sini bukanlah berkaitan tentang bagaimana jika muslim itu memakai parfum di tempat-tempat umum. Tapi, muslim parfum yang ingin penulis utarakan di sini adalah berkaitan dengan pencitraan ummat Islam di Indonesia yang tenar dengan keislamannya, bisa hafal quran, menterjemahkan, bisa melantunkan ayat-ayat dengan baik, tapi krisis dari penerapan ajaran Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari. Muslim Indonesia sangat menggoda siapa saja, namanya kesohor ke luar negeri, tapi semuanya itu hanya bau parfum. Ketika orang luar negeri datang ke Indonesia, maka muslim Indonesia bagaikan rasa parfum yang terasa pahit dan tidak menegenakkan.

Indonesia rakyatnya banyak yang hafal Al-Quran. TPQ, MUQ, Pesantren dan Dayah ada di mana-mana, tapi kenapa nilai-nilai ajaran Al-Quran tidak pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Kalau pun ada, persentasenya sangat sedikit sekali dan hanya beberapa mu’amalah saja yang dilandasi dari nilai-nilai ajaran Al-Quran.

Pemimpin “Parfum”

Indonesia dikenal dengan masyarakat yang  mayoritas rakyatnya adalah muslim, dan tahu baca Al-Quran,  tapi di berbagai instansi pemerintah ada saja temuan penggelapan uang negara. Lihat saja, hampir semua kantor pemerintah di Indonesia juga termasuk di Aceh, dinakhodai oleh seorang muslim yang bisa membaca Al-Quran, namun program yang dimunculkan hanya sekedar dapat mencairkan dana untuk “peumawah” antara atasan dan bawahan. Sehingga, Ujung-ujung akan muncul dalam pertanggungjawaban keuangan yang terkesan tidak amanah. Misal, harga pengadaan barang yang dibeli dengan murah tapi dipertanggungjawabkan dengan harga yang mahal, sehingga terjadilah praktek korupsi dan manipulasi keuangan negara.

Jika pemimpin di sebuah instansi tidak amanah lagi, maka para staf atau pegawai di kantor tersebut juga akan berpengaruh kinerjanya karena mereka bakal tidak loyal lagi kepada atasannya yang tidak amanah. Maka, pemimpin (imam) dalam sebuah instasi sudah melakukan kesalahan (imam berhadats dalam shalat),  serta merta para staf (jama’ah) tidak wajib lagi untuk mengikuti aba-abanya.

Kemaksiatan saat ini tidak hanya terjadi di tempat hiburan saja, namun di kantor-kantor pemerintah justru lebih banyak kemaksiatan dalam bentuk yang samar namun cukup memprihatinkan. Yang dimaksud kemaksiatan di sini bukanlah dikantor ada penari telanjang, atau orang yang sedang mabuk-mabukan. Melainkan tindakan-tindakan yang mendurkai Allah SWT, yang dipertontonkan oleh pemimpin kita. Bukankah korupsi, kolusi, dan semua hal yang mengarah kepada ke-tidak jujuran termasuk dalam ma’siat? Oleh karena itu, jika ada pemimpin yang tidak amanah lagi, maka kepatuhan kepada pemimpin (atasan) itu baik secara hierarki, telah gugur dengan sendirinya.

Ibnu Umar r.a. berkata: Bersabda Nabi SAW: “Seorang muslim wajib mendengar dan ta’at pada pemimpinnya dalam apa yang disetujui atau tidak disetujui, kecuali jika diperintahkan untuk maksiat. Maka apabila disuruh maksiat, maka tidak wajib mendengar dan tidak wajib ta’at”. Hadist ini menggambarkan bahwa kepatuhan kepada atasan tidaklah mutlak dan ada batasan-batasan tertentu bahkan boleh berontak atau melawan jika atasan (pemimpin) sudah mengajak kepada hal-hal yang tidak amanah.

Bukan rahasia lagi, kerja KPK di berbagai daerah di Indonersia seakan tidak cukup lagi waktu mereka bekerja 24 jam. Bahkan rutan untuk para TIPIKOR harus disediakan tempat khusus dan mesti diperluas lagi, penyebabnya adalah karena kurangnya amanah yang telah dipercayakan. Makin banyak para Koruptor yang dipenjara, sudah pasti makin banyak anggaran Negara yang terkuras untuk memberi makan selama mereka (para Koruptor) di tahan dalam rutan. Hebatnya, setelah  melakukan tindak pidana korupsi dengan penggelapan uang dan merugikan negara, pemerintah mereka buat kalangkabut lagi untuk menambah anggaran mereka makan selama mereka di tahan dalam penjara.

Banda Aceh Bukan Kota Madany “Parfum”

Ungkapan Banda Aceh menuju kota Madany jangan dijadikan simbol atau pemanis bibir semata tapi masyarakat muslimnya adalah masyarakat “parfum”. Walikota Banda Aceh sebaiknya berfikir serius dalam menempatkan orang-orang yang akan mengambil kebijakan dan merancang program di berbagai kantor dan instansi pemerintahan dalam lingkungan kota Banda Aceh. Oleh karena itu, pegawai-pegawai di kantor pemerintah dan juga pimpinnannya harus sering di evaluasi kinerja, loyalitas dan ke-amanah-annya. Jika ada pegawai atau pengambil kebijakan di dikantor-kantor yang sudah tidak amanah lagi, walikota Banda Aceh  harus berani mencopot jabatan orang tersebut dan segera diganti dengan orang lain yang lebih jujur dan amanah agar Banda Aceh yang bersyariat dan menuju kota Madany segera terwujudkan.

Pembiaran hal yang tidak baik yang dipraktekkan di berbagai kantor akan menjadi petaka terhadap semboyan “Banda Aceh yang bersyariat” atau “Banda Aceh sebagai model  kota Madany”. Aceh adalah wilayah bersyariat yang “bee jih” (Parfum) tercium ke daerah-daerah yang lain,  tapi justru menjadi tempat bersarang orang-orang yang leluasa mempermainkan anggaran ummat (rasa jih phet).

Akhirnya, penulis berharap kepada pembaca semua agar dapat selalu dan senantiasa berdoa kepada Allah, agar kita dan semua masyarakat Indonesia umumnya, dan masyarakat kota Banda Aceh khususnya, akan terhindar dari pernyataan Rasulullah sebagai masyarakat “Muslim Parfum”. Terhindar dari sebutan, Aceh lebel masyarakat yang bersyariat dengan baunya, tapi  pahit “rasa” ummatnya.

 

  • Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang