Artikle Ilmiah

BAHASA "ARTERIA DAHLAN" MENUNJUKKAN BANGSANYA
Oleh : Nazarullah, S. Ag, M. Pd - 31 March 2018




Bangsa yang baik, bajik dan bijak sangat ditentukan oleh  kwalitas prilaku dan moral. Masyarakat yang bermoral adalah masyarakat yang mengedepakan tata krama dan kesantunan dalam berkomunikasi. Ketika sebuah bangsa mengabaikan nilai-nilai santun, maka bersiap-siaplah bangsa itu menjadi bangsa dengan kasta yang terendah dalam tataran persahabatan dunia.

Peribahasa klasik mengungkapkan bahwa:  "Bahasa Menunjukkan Bangsa". Makna dibalik peribahasa ini  mengungkapkan, baik buruknya sifat dan tabiat seseorang dapat dilihat dari tutur kata atau bahasanya. Bila seseorang tidak mengedepankan etika berbahasa yang baik, sesungguhnya dia sedang "memamerkan diri", siapa dia, dan dari komunitas (Bangsa, Organisasi, Partai dan Golongan) mana dia berasal. Hal ini bisa kita perkuat dengan ungkapan Saidina Ali Bin Abi Thalib yang mengatakan: Tunjukkan Sepuluh teman-mu. Maka akan kukatakan siapa diri kamu".

Di dalam ilmu komunikasi, bahasa adalah alat komunikasi penting yang menjembatani seseorang dengan orang lain. Setiap orang, baik dalam organisasi maupun kemasyarakatan, harus bisa menjaga santun bahasa. Dengan menjaga santun bahasa, maka komunikasi akan berjalan dengan baik. Santun dalam berbahasa  sesungguhnya menunjukkan seseorang bagaimana melakukan interaksi sosial dalam kehidupannya secara lisan.

Gaya Bahasa Cerminan Kualitas Diri

Warga ASN Kementerian Agama Republik Indonesia, pada hari rabu, 28/03/20l8, termasuk kami para Widyaiswara yang sedang mengikuti TOT di Pusdiklat Balitbang Kementerian Agama Ciputat dikejutkan dengan bahasa yang digunakan oleh  ARTERIA DAHLAN (AD) Anggota DPR-RI Fraksi PDI-P asal Daerah Pilihan 6 Jawa Timur saat rapat Komisi III DPR-RI bersama Jaksa Agung, yang menyindir atau mengatai Kementerian Agama RI dengan kata " Bangsat".

Menunurut Jhonni Hutahaean, Kata Bangsat ditujukan untuk orang 'Brengsek' Seperti Pengkhianat, usil dan juga munafik. Tidak ada seorang anak manusia di manapun berada termasuk  termasuk Indonesia yang mau dikatain dengan Kata 'Bangsat' apalagi yang namanya Lembaga Kementerian Seperti Kementerian Agama Republik Indonesia.

Diakui atau tidak,  Ungkapan bahasa 'Bangsat' yang diucapkan oleh AD di Forum anggota dewan terhormat, telah membawa dirinya menjadi anggota dewan yang terhormat lagi. Bahkan tidak hanya itu, ketika ucapan itu diucapkan, masyarakat Indonesia sudah bisa menilai bahwa  Anggota DPR-RI fraksi PDI-P Kualitas dirinya sangatlah rendah.

Sebagai anggota Dewan Terhormat, AD tidak mencerminkan dirinya sebagai salah satu anggota dewan yang bisa dicontoh dan diteladani. Artinya, akibat ungkapan bangsat yang dituju untuk Kementerian Agama, sudah selayaknya Majlis Kehormatan DPR-RI memberi sanksi atau teguran kepada AD dan/atau menonaktifkan dia dari anggota DPR-RI.

Bahkan tidak hanya itu saja, akibat ungkapan 'bangsat' yang diucapkan oleh AD ini, telah melukai hati semua ASN Kementerian Agama di seluruh wilayah Indonesia.  Oleh karena itu, selayaknya AD meminta maaf secara terbuka kepada Kementerian Agama Republik Indonesia dan Jajaran Binaan di bawahnya. Bila permohonan maaf tidak dilakukan, besar kemungkinan seluruh guru Madrasah, Wali Murid, Pimpinan Pesantren dan anggota ormas keagamaan  lainnya yang berdomisili di wilayah DAPIL 6 Jawa Timur untuk tidak memberikan suara kepada AD saat pelaksanaan PILEG 20l9.

Kejadian hujatan kotor untuk Kementerian Agama ini, mengingatkan kita kepada pepatah: 'Berjalan Peliharalah Kaki, dan Bertutur Peliharalah Lidah. Lidah tidak bertulang, tapi ketika lidah mengeluarkan bahasa yang jorok, maka sesungguhnya lidah itu telah melukai hati kawan lewat komunikasi yang tidak sopan sampai menjadi lawan. Bravo warga/ASN Kementerian Agama Republik Indonesia.

Jakarta, 3l Maret 20l8.

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang