Artikle Ilmiah

PUASA DAN PEMBENTUKAN AKHLAK BANGSA
Oleh : Nazarullah, S.Ag, M.Pd - 04 June 2018



Penguatan pendidikan akhlak dalam kontek negara kita Indonesia saat ini sangat penting untuk mengatasi krisis moral yang sedang melanda generasi bangsa Indonesia. Diakui atau tidak, bangsa kita saat ini sedang dilanda krisis yang sangat mengkhawatirkan yang lebih parah dari krisis moneter yaitu krisis akhlak ('azmatul akhlak) dengan melibatkan harta kita yang paling berharga yaitu anak-anak kita.

Krisis itu antara lain meningkatnya pergaulan seks bebas, maraknya angka kekerasan anak dan remaja (terutama yang terlibat dalam geng motor), kejahatan terhadap teman, kebiasaan menyontek, pornografi, pornoaksi, merusak fasilitas umum, pelecehan seksual,  pemerkosaan dan penyalahgunaan narkoba yang sudah sangat meresahkan.

Perilaku orang dewasa juga sudah sangat mengkhawatirkan. Senang dengan kekerasan atau tawuran antar warga. Perilaku korupsi sudah mencapai titik klimaks di berbagai daerah, serta perdagangan manusia. Kondisi ini menjawab bahwa pengetahuan dan pendidikan yang didapatkan di lembaga pendidikan tidak berdampak terhadap perubahan perilaku dan terbentuknya akhlak manusia Indonesia.

Akhlakul karimah menempati posisi penting dalam Islam. Hal ini dapat kita lihat dari tujuan diutusnya Rasulullah SAW ke dunia ini yaitu untuk memperbaiki akhlak manusia. Berkaitan dengan pembentukan akhlak manusia, puasa di bulan ramadhan memiliki pengaruh yang sangat besar. Lewat puasa ramadhan, umat Islam dididik untuk mengontrol dan mengendalikan hawa nafsu. Pengendalian hawa nafsu menjadi faktot utama dalam membentuk pribadi yang baik.

Menurut Ibnu Katsir, mengendalikan hawa nafsu lewat ibadah puasa akan membatasi gerak iblis untuk menjerumuskan manusia kepada hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Oleh karena itu, dalam bulan ramadhan punya kesempatan yang besar dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain dalam mencapai derajat takwa, karena di bulan inilah ibadah puasa diwajibkan oleh Allah SWT.

Melatih Kejujuran
Dalam sebuah Hadits Kudsi, Allah berfirman: "Semua ibadah anak cucu Adam untuk dirinya sendiri, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku-lah yang memberi pahalanya. Puasa adalah perisai. Karena itu, apabila seseorang dari kamu berpuasa janganlah dia berkata kotor dan jangan pula bertengkar". (HR. Bukhari-Muslim). Puasa adalah ibadah rahasia dan tidak ada orang lain yang tahu. Kerahasiaan ibadah puasa ini mengandung hikmah yang sangat besar terhadap pendidikan jiwa (Ruhiyyah).

Karena puasa merupakan ibadah rahasia, tentu saja tidak seorangpun yang tahu kita puasa atau tidak, kecuali diri kita dan Allah SWT. Karena tidak ada orang lain yang tahu, bisa saja kita makan secara sembunyi-sembunyi di bulan ramadhan. Namun hal itu tidak kita lakukan. Ini menandakan bahwa kita sedang melatih kejujuran lewat ibadah puasa di bulan ramadhan.

Manusia yang jujur telah langka di Indonesia ini. Mencari orang pintar sangat mudah, tapi mencari manusia yang jujur sangatlah susah. Nilai-nilai kejujuran telah banyak dicampakkan dari tatanan kehidupan sosial, ekonomi, dan politik bangsa Indonesia. Menjamurnya korupsi, pungli, sogok, suap dan uang pelicin menjadi indikasi bahwa fenomena ketidakjujuran benar-benar telah menjadi realitas sosial yang menggelisahkan.

Birokrasi yang korup di era reformasi saat ini dipertontonkan secara fulgar. Malahan, Koruptor yang yang tertangkap tangan dan digekandang ke KPK, didepan wartawan dan kamera mereka masih sempat tersenyum dan merasa tidak bersalah. Oleh sebab itu, untuk mengurangi dan mengatasi prilaku korup, puasa merupakan ibadah ritual yang paling tepat bila dilakukan dengan iman dan takwa kepada Allah SWT, serta penuh dengan penghayatan dan mawas diri (ihtisab) dengan meresapi hikmah berpuasa di bulan ramadhan.

Budaya contek yang dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa saat ujian, juga merupakan bagian dari ketidakjujuran. Mencontek itu seolah-olah sudah menjadi budaya yang positif. Konon, membocorkan jawaban ujian 'berjamaah' pada saat UNBK berlangsung yang dipandu oleh pendidik atas permintaan kepala sekolah/madrasah, mensinyalir bahwa jujur itu hanya dipelajari untuk kognitif semata dan diabaikan untuk sisi afektif atau mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Ironis bukan?

Ketika Rasulullah mengatakan bahwa: 'Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan pahala sedikitpun dari puasa tersebut kecuali lapar dan dahaga', hal ini menunjukkan bahwa banyak orang yang melakukan puasa tapi hanya sekedar menahan makan dan minum saja. Artinya, puasa yang dilakukan tidak berdampak sama sekali terhadap perilaku. Padahal, hikmah puasa itu sangat erat kaitannya dengan kehidupan bernasyarakat dari sisi edukasi moral dan akhlak.

Pendidikan kejujuran yang terdapat dalam ibadah puasa, perlu dikembangkan dan diimplementasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sungguh sangat ironis, kesemarakan menyambut bulan ramadhan dari tahun ke tahun, berbanding terbalik dengan penyimpangan dan ketidakjujuran. Puasa ramadhan selama sebulan penuh belum mampu membentuk pribadi jujur, berarti kualitas puasa masih sebatas lapar dan dahaga.

Mendadak jadi baik, santun dan membantu fakir miskin, berjilbab dan bergamis serta mendadak bagaikan ustadz dan ustadzah saat masuknya bulan ramadhan yang dipertontonkan selebritis Indonesia, juga bagian dari topeng ketidakjujuran. Masuknya bulan ramadhan, semua berlomba memakai 'topeng ramadhan'. Namun yang dilakukan dan diprtontonkan hanya sampai dengan tibanya hari raya idul fitri. Setelah itu kembali kepada kebiasaan lama, tanpa hijab dan memamerkan aurat.

Jaya Bangsa Karena Akhlak

Misi pertama Rasulullah dalam membentuk masyarakat adalah penguatan di bidang akhlak. Syeikh Muhammad Abu Zahrah dalam kitab Tanzim Al-Islam Li Al-Mujtama' menyatakan bahwa: "Budi pekerti atau moral yang mulia adalah satu-satunya azas yang paling kuat untuk melahirkan manusia yang berhati bersih, ikhlas dalam hidup, amanah dalam tugas, cinta kepada kebaikan dan benci kepada kejahatan".

Ungkapan ini menyampaikan pesan bahwa kekalnya suatu bangsa dikarenakan kokohnya akhlak, dan begitu juga sebaliknya. Fenomena ini dapat kita telusuri lewat kisah-kisah kaum Luth, Tsamud, kaum Nabi Ibrahim, Bani Israil dan lain-lain. Bangsa yang akhlaknya rendah adalah bangsa yang akan cepat punah dari kehidupan dunia ini.

Bangsa yang tidak berakhlak akan berdampak kepada kehancuran negara. Sejarah telah mencatat bahwa, kekalahan Perancis dari Jerman disebabkan karena tentaranya krisis moral dan akhlak. Bangsa Sodom dan Gomora yang hidup berdekatan dengan laut mati, serba kecukupan, hidup kaya dan mewah,  diluluhlantakkan oleh Allah SWT, karena prilaku amoral yang sudah sangat parah. Mesir kuno dengan prilaku seks yang menyimpang, seorang ibu posisinya bisa jadi istri,  yang boleh digauli  kapan saja oleh anak lelaki,  juga dilenyapkan dari peradaban dunia.

Semoga, kehancuran bangsa-bangsa yang tidak bermoral dan tidak berakhlak di belahan bumi ini, jadi pelajaran yang berharga bagi bangsa Indonesia. Sejarah selalu berulang-ulang, hanya beda dalam beberapa hal saja. Oleh karena itu,  dengan momentum ibadah puasa di bulan ramadhan l439 H benar-benar akan melahirkan dan mewujudkan bangsa Indonesia yang berakhlak, sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang maju, bijak dan jaya.

* Penulis adalah: Widyaiswara Ahli Muda pada Balai Diklat Keagamaan Aceh.

Email: nazarullah_za@yahoo.co.id

Copyright 2016. Balai Diklat Keagamaan Provinsi Aceh - Hak Cipta dilindungi Undang-undang