Top
    bdkaceh@kemenag.go.id
(0651) 34088

Manusia Pemakan Daging Saudaranya di Akhir Zaman

Jumat, 28 Februari 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
1523 kali dibaca

Membaca topik di atas terasa sangat ‘angker’ dan ‘horror’. Tetapi memang itulah yang terjadi di akhir zaman ini, yaitu makin banyaknya manusia memakan bangkai, padahal bangkai merupakan suatu benda yang haram untuk dikonsumsi oleh  manusia malah itulah  yang selalu mereka lakukan. Hanya saja ‘bangkai yang penulis maksud dalam tulisan ini adalah manusia pengupat atau dalam Islam sering disebut dengan ghibah.

            Tulisan ini ditulis dengan hati yang mendalam, mengingat kondisi saat ini banyak sekali manusia satu sesama yang lain saling mengupat, mengumbar aib sesama saudara  mereka, saling menjelek-jelekkan bahkan saling memfitnah. Perilaku seperti ini tidak hanya dilakukan oleh orang-orang tidak berilmu bahkan orang berilmupun sudah menjadi suatu kedinasan dalam kehidupannya.

            Perilaku mengupat atau dalam islam disebut dengan ghihah . Menurut mam Ghazali dalam Ihya' Ulumuddin mendefinisikan ghibah yaitu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya jika ia mendengarnya, baik kamu menyebutnya dengan kekurangan yang ada pada badan, nasab, akhlak, perbuatan, perkataan, agama, atau dunianya, bahkan pada pakaian, rumah dan kendaraannya.

Dari penjelasan Al-Ghazali sangat jelas bahwa ghibah merupakan perbuatan  tercela bagi pelakunya. Hal tersebut tentunya bisa berkembang dengan memberitakan kabar yang tidak benar, membuat perkataan yang tidak jujur dan melakukan kebohongan. Inilah perilaku yang sering kita lakukan tanpa sadar, padahal itu termasuk maksiat. Perilaku ghibah dalam Islam sangat dikecam bahkan Allah Swt mengecamnya dengan ‘sudikah kita memakan dagisng  saudaramu’?. Hal ini sebagaimana disebutkan Surat Al-Hujarat ayat 12 disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, orang yang menggunjing sama dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati (bangkai). Lalu apa hukumnya membuka aib atau menggunjing? Karena Allah SWT dan Rasulullah SAW sudah secara jelas dan tegas melarang membicarakan aib orang lain, maka tentu menggunjing itu hukumnya haram.

Dikutip dari buku 'Kesempurnaan Ibadah Puasa' Abdul Manan bin Hajji Muhammad Sobari, ada 10 siksaan yang Allah janjikan untuk golongan ini. Abu Hurairah ra berkata bahwa Nabi Muhammad SAW telah bersabda: "Barang siapa selama hidupnya mengumpat satu kali, maka Allah menyiksanya dengan 10 macam siksaan, yaitu: ia jauh dari rahmat Allah, para malaikat tidak mau mendekat, saat sakaratul maut yang menyakitkan, dekat dengan neraka, semakin jauh dari surga, dahsyat siksa kuburnya, amal baik dihapus, ruh Nabi Muhammad sakit karena dia, Allah SWT murka, dan ia akan jadi orang pailit ketika ditimbang amal di hari kiamat," Abu Umamah Al Baahily juga pernah berkata bahwa: besok pada hari kiamat ada seorang hamba diberi catatan amal dan ia melihat beberapa kebaikan yang tidak ia kerjakan. Ia kemudian bertanya pada Allah: Wahai Tuhanku! dari mana kebaikan ini. Allah menjawab 'ini amal baik orang yang pernah mengumpatmu sementara kamu tidak tahu dan tidak merasa'.

Sayyidina Ali RA pun pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda "Jauhilah olehmu sekalian dari mengumpat, karena sesungguhnya dalam mengumpat ada tiga bencana: yakni doa tidak dikabulkan, kebaikan tidak diterima, dan kejelekan bertambah.

Dengan memahami ayat dan hadis rasulullah di atas, betapa besarnya kecaman  dan Azab Allah bagi para pelaku pengupat baik di dunia maupun di akhirat, semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang takut terhadap azab ini dan sanggup menjauhinya terutama bagi penulis sendiri maupun kepada Allah lainnya. Aamiin.

 

*Penulis adalah widyaiswara BDK Aceh


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP