Top
    bdkaceh@kemenag.go.id
(0651) 34088

MEMBANGUN KEPERCAYAAN MASYARAKAT DI MASA PANDEMI CORONA

Minggu, 4 Oktober 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
534 kali dibaca

Sembilan bulan sudah pandemi covid-19 menghantui masyarakat Indonesia. "Hantu" Covid-19 benar-benar bagaikan hantu beneran, karena tidak bisa dilihat tapi nyata dalam kehidupan dengan banyak memakan korban. Sehingga hampir semua kegiatan lumpuh dan ekonomi rakyat hancur.

Awal mula saat pandemi ini melanda dan mewabah, banyak masyarakat Indonesia yang khawatir dan ekstra menjaga diri agar tidak tertular apalagi sampai harus tidur di ruangan kusus rumah sakit bahkan sampai ajal menjempunya. Namun, seiring waktu, masyarakat menjadi "tungang" seolah-olah pandemi ini tidak ada seiring dengan banyaknya pelanggaran protokolan pandemi covid-19 yang dilanggar.

Akibat pelanggaran yang terjadi, covid-19 telah banyak memakan korban di Indonesia. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah orang yang banyak meninggal dunia setelah dirawat di rumah sakit semuanya akibat terpapar positif wabah covid-19? Kenapa pertanyaan ini muncul? Hal ini disebabkan karena banyak masyarakat di Indonesia sudah hilang kepercayaan kepada tim medis dan juga pemerintah dalam hal masalah wabah yang muncul di akhir tahun 2019 tersebut di kota Wuhan.

Selama wabah merebak di Indonesia, kejanggalan dan keanehan dalam penangan kasus covid terus saja bermunculan. Betapa tidak, untuk mendeteksi masyarakat yang terjangkit virus atau tidak, dianjurkan untuk melakukan tes swab. Bukan tes swab yang menjadi persoalan mendasar di sini, tapi kebijakan dari tas swab itu sendiri.

Berkembang informasi bahwa, bila masyarakat yang melakukan tes swab dan hasilnya positif, maka yang bersangkutan biaya tes akan ditanggung negara. Tapi bila hasil tes swab tersebut negatif, maka beban biaya harus ditanggung sendiri. Bila kebijakan ini dilaksanakan, maka diperkirakan jumlah masyarakat yang terpapar Corona akan lebih banyak dikarenakan orang yang menjalani tas swab dan dinyatakan negatif tapi harus bayar sendiri, otomatis akan mencari gratis walau namanya terdaftar dalam hal positif demi menghindari untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar.

Tulisan ustaz H. Masrul Aidi, Lc sangat menggugah kita semua berkaitan dengan kepercayaan masyarakat yang sudah luntur kepada pengambil kebijakan. Masrul Aidi dalam sebuah tulisannya menyampaikan beberapa hal yang menggelitik kita semua, Berikut tulisan itu penulis angkat moga menjadi bahan renungan pembaca dan kita semua:

Kami yang awam ini bukan tak percaya adanya virus corona, jangankan virus yang masih se-alam,  sama-sama alam fisika, malaikat dengan jin yang beda alam pun kami percaya, padahal alam mereka metafisika. Sehalus-halusnya virus masih ada mikroskop untuk meneliti, tapi jin dan malaikat belum ada alat untuk deteksi selain kemenyan dengan jampi-jampi. Bukan pula kami curiga kepada paramedis yang mati-matian sampai dengan mati benaran berjibaku menyelamatkan pasien corona, karena kami sangat yakin tak ada KONTRAKTOR yang sukarela terima proyek membersihkan gigi buaya, kecuali buaya darat.

Kami hanya tak percaya dengan kebijakan pemimpin negeri ini dalam menghadapi pandemi. Saat virus ini dimulai dari Cina, sampai hari ini "bangsatwan" dari negeri tersebut bebas keluar masuk, bahkan diberi fasilitas istimewa. Ketika semua negara menutup pelabuhan dan bandara, pemimpin negeri ini malah sibuk promosi pariwisata. Saat negara lain fokus menyelamatkan nyawa, pemerintah republik ini sibuk menyelamatkan devisa.

WHO telah umumkan antivirusnya belum ada, seharusnya antibodi menjadi tumpuan. Tapi pemerintah secara sistematis menggerus imunitas tubuh dengan pemberitaan korban corona terus menerus. Seharusnya ruang ibadah, ruang belajar, ruang kerja, dan ruang sosial menjadi tempat mengecas imun, tapi semua ditutup agar kita fokus menahan serangan virus tanpa tameng tanpa senjata. Refocusing anggaran di mana-mana, pegawai yang seharusnya kerja, sekarang hanya melamun saja. Proyek yang menyerap tenaga kerja terhenti dan ekonomi pun merana.
Rakyat disubsidi dengan dana desa, warga menumpuk menanti jatahnya.

Kenapa tidak dibuka lahan tani, kebun dan ternak seluas-luasnya, agar masyarakat bisa beraktivitas dan melupakan corona. Pastikan hasil usaha mereka diserap pasar, atau dibeli oleh pemerintah dengan anggaran corona walaupun untuk "dibuang" semua. Sekurang-kurangnya, badan mereka sehat karena keringat mengucur, jiwa mereka kuat karena ada harapan yang menggiur. Biarkan mereka tetap belajar agar masa depan mereka makmur, aktifkan ruang-ruang sosial agar mereka terhibur, dorong mereka beribadat, Kalaupun mati karena corona minimal selamat di dalam kubur.

Kawan-kawan paramedis, kuatlah... kami tidak melawan Anda, kami hanya melawan kebijakan yang salah kaprah, yang setiap hari terus berubah, bukan hanya kebijakan, bahkan termasuk istilah. Kami pun bingung dengan peraturan-peraturan yang cenderung menyingkirkan akal sehat. Dimana disatu sisi, diwajibkan pemakaiannya dari jenis apapun tidak dipermasalahkan, yang penting pakai, disangsi jika tidak digunakan, tapi disisi lain, ada klasifikasikasi yang boleh dan jangan dipakai.

Belum lagi peraturan dimana sedang sendiri pun, diwajibkan tetap dipakai. Sementara dari teori yang ada, dia menyebar lewat droplet. Tidak terbang di udara sepertinya halnya virus penyakit lain. Rakyat yang menghadiri upacara pemakaman dibubarkan dengan alasan berkerumun, padahal sudah memakai protokol, sementara disidang razia masker mereka berkerumun kok tidak dibubarkan juga? Dan tempo hari, ketika ada elemen rakyat yang berdemo dan dangdutan di pilkada pun tidak dibubarkan.

Wahai akal sehat pulanglah kembali ke Indonesia, bila tidak pergilah selamanya, karena saudara kami yang mengalami gangguan jiwa, sampai hari ini baik-baik saja. Hemat penulis, tulisan Masrul Aidi ini merupakan bagian dari kondisi dan kenyataan yang terjadi di lapangan, diakibatkan dari persoalan yang salah urus dan salah arah.

Keadaan diperparah lagi dengan munculnya kekhawatiran masyarakat untuk berobat di rumah sakit. Merasa khawatir akan dijadikan sebagai pasien penyakit Corona yang disebabkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Belum lagi perihal orang yang masuk rumah sakit karena mengindap suatu penyakit, tapi saat meninggal malah difonis positif Corona.

Wallahu a'lam

(Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh)


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP