Top
    bdkaceh@kemenag.go.id
(0651) 34088

PEMBERLAKUAN JAM MALAM DI ACEH PANTAS DICABUT

Selasa, 7 April 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
126 kali dibaca

Kebijakan Gubernur Aceh memberlakukan Jam malam bagi warga Aceh sejak tanggal 29 Maret s/d 29 Mei 2020, mulai Sabtu tanggal 4 April 2020 resmi dicabut. Dengan demikian, sejak malam Minggu ini, kebijakan tersebut tidak berlaku lagi. Dicabutnya pemberlakuan jam malam ini mendapat tanggapan positif dari berbagai pihak terutama masyarakat yang mengais rizki untuk menafkahi keluarganya.

Menurut sejumlah informasi, Gubernur Aceh mencabut jam malam ini dikarenakan ada masukan dari sejumlah elemen masyarakat yang menyatakan bahwa pemberlakuan jam malam di Aceh tidak efektif karena bukan sedang masa darurat sipil atau darurat militer. Bahkan pemberlakuan jam malam ini akan berdampak trauma kepada masyarakat Aceh karena akan terngiang kembali pada masa DOM dulu yang berdampak negatif.

Selama seminggu pemberlakuan jam malam bagi masyarakat Aceh dari jam 20.30 s/d 05.30 telah berdampak negatif kepada pengusaha kecil dan menengah terutama orang-orang yang mencari sesuap nasi untuk hari-hari yang aktivitas mereka kadang kala lebih banyak dilakukan di malam hari. Selama dalam seminggu ini, orang-orang yang berjualan di pinggir jalan banyak yang tutup, padahal kita tahu bahwa yang berjualan tersebut adalah masyarakat biasa yang berjualan untuk menafkahi keluarganya.

Sejak pemberlakuan jam malam di Aceh diberlakukan, jalan-jalan masuk ke Aceh dan terutama jalan masuk kota Banda Aceh ditutup dan dijaga ketat oleh TNI/POLRI sehingga mengingatkan kita kembali pada era masa Operasi Militer di Aceh. Padahal, kondisi saat ini sangat berbeda dengan masa DOM. Yang kita hadapi saat ini adalah pandemi wabah Corona yang mendunia dan bukan Darurat Sipil atau Militer.

Traumatik masa DOM, semenjak diberlakukan jam malam di Aceh muncul kembali. Bagi masyarakat yang berkeliaran di jalan atau di luar rumah di atas jam 20.30, akan disuruh pulang. Hal ini menjadikan gerak masyarakat terbatas. Toko-toko dan warung banyak yang tutup lebih cepat dari biasanya. Pada awalnya, pemberlakuan jam malam ini cukup bagus untuk menghambat masyarakat pencinta kopi Aceh duduk ramai-ramai di warung kopi. Bagusnya adalah, agar masyarakat Aceh benar-benar mematuhi surat edaran pemerintah Aceh lainnya agar berada sekitar rumah untuk menghambat dan memutus rantai penyebaran virus Corona meluas.

Diskriminasi antara TKI dan TKA

Gelombang protes masyarakat terhadap pemberlakuan jam malam di Aceh dalam seminggu ini terus disampaikan oleh tokoh-tokoh yang ada di Aceh Kepada Gubernur Aceh. Protes ini dilayangkan karena mereka menganggap pemberlakuan jam malam untuk menghambat penyebaran virus Corona tidak akan efektif malah akan berdampak kepada kesengsaraan masyarakat dalam mencari rizki. Betapa tidak, pada saat pemberlakuan jam malam dan akses ke kota Banda Aceh di tutup malam hari dan dijaga oleh keamanan, bandar udara Sultan Iskandar Muda, Jalur laut dan lintas transportasi umum dari Medan masuk ke Aceh masih tetap terbuka. Masyarakat menganggap, hal ini bagian dari diskriminatif terhadap masyarakat Aceh.

Konon, pada saat masyarakat Aceh peduli dengan waspada covid-19, bandara SIM malah kecolongan dengan kedatangan beberapa TKA China lewat bandara tersebut yang berakhir ceritanya saat masyarakat Nagan Raya mengusir mereka dan tidak diizinkan TKA tersebut masuk dan menetap di Nagan Raya. Aksi penolakan terhadap TKA China oleh masyarakat Nagan Raya patut diacungi jempol. Karena, TKI Aceh yang baru pulang dari Malaysia dianjurkan karantina mandiri selama 14 hari dan tidak diizinkan berinteraksi dengan masyarakat luas, sementara TKA dari China malah boleh langsung menuju ke lokasi kerja mereka di Nagan Raya. Bukankah ini diskriminatif namanya?

Semestinya, TKA dari China yang baru turun di bandara Sultan Iskandar Muda, Gubernur Aceh harus mengkarantinakan mereka terlebih dulu di seputaran Banda Aceh selama 14 hari, baru setelah itu diberangkatkan ke lokasi kerja mereka di Nagan Raya. Kalau ini dilakukan, keadilan telah ditegakkan. Pendatang, tamu yang baru datang dari suatu daerah harus diperiksa dan dikarantina demi menjaga wabah Covid-19 tidak meluas di bumi Serambi Makkah.

Masih terbukanya akses masuk ke Aceh lewat udara, laut dan jalur darat , telah menjadikan salah satu alasan pemberlakuan jam malam tidak bermakna. Masyarakat Aceh setelah jam 20.30 tidak boleh lagi berkeliaran, tapi bus lintas sumatera terus masuk membawa penumpang dari Sumatera Utara. Adakah aparat keamanan memeriksa bus yang masuk ke Aceh dengan teliti? Adakah tim medis dilibatkan untuk melakukan tes suhu badan kepada setiap penumpang yang baru datang dari kota Medan? Kalau tidak, sia-sialah jam malam diberlakukan.

Terhadap fenomena ini, banyak bermunculan gunjingan masyarakat yang dialamatkan kepada pemangku kebijakan di Aceh. Sehingga ada ungkapan yang muncul: " Rakyat Droe yang ban wo u Nagroe Han ditueng di Gampong, TKA China  yang po wabah dipeuleurong ". Ungkapan ini wajar di ungkapkan masyarakat, karena yang terjadi hari ini adalah, TKI Aceh yang harus pulang dari Malaysia, harus melapor dan diperiksa kesehatan demi kenyamanan bersama di Aceh, tapi kenapa ketika warga China yang dalih-dalih TKA malah diperlakukan seperti tuan rumah yang baru pulang ke negerinya sendiri.

Blo Kupi dengan Kaca

Malam ini jam malam telah dicabut kembali oleh Gubernur Aceh. Dengan pencabutan jam malam ini bukan berarti kita harus lengah dari mensterilkan Aceh dari wabah Corona. Jam malam.boleh dicabut, tapi waspada Corona tetap berlanjut. Pedangan silahkan membuka usahanya,  warung kopi diperkenankan membuka dapur kopinya. Namun ngopi bareng dan cang panah ramai-ramai dalam warung kopi dan caffe tetap harus diwaspadai. Silahkan beli kopi di warkop agar usaha jualan kopi tetap jalan. Bawa "kaca limon", atau "kaca sirup" atau termos, lalu kopi yang dibeli dibawa pulang untuk dinikmati bersama-sama dalam keluarga. Jam malam boleh dicabut, stay at home tetap dipelihara agar semua masyarakat Aceh selamat.

Bagi pencinta kopi, beli kopi dengan botol memang terasa tidak enak dan tidak bisa menikmati rasa yang seperti biasanya. Tapi yakin dan percaya, dengan kita tetap menjada dan selalu beraktifitas di rumah, suatu saat nanti kita akan kembali bisa menikmati kopi di warkop dan caffe. Untuk sementara waktu, mari kita ngopi di rumah, hindari keramaian demi keberlangsungan penduduk Aceh dari wabah Corona.

Terimaksih bapak Gubernur. Terimaksih kepada semua jajaran pimpinan Aceh yang sudah mau mengkaji kembali kebijakan jam yang sudah dilaksanaka dalam minggu ini. Semoga, dengan pencabutan jam malam, ekonomi rakyat Aceh akan menggeliat kembali. Nyak-nyak yang Peh timphan akan bisa menjajakan kuenya lagi.  Pedagang kaki lima bisa mengais rizkinya kembali. Yakin dan percayalah, bila masyarakat deuk troe, saket asoe, meuheut u muda hana peng bak bloe, kebijakan jam malam akan tetap dipermasalahkan.

Darussalam,  April 2020

Penulis, Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP