Top
    bdkaceh@kemenag.go.id
(0651) 34088

VIRUS KETAKUTAN LEBIH BERBAHAYA DARI VIRUS CORONA

Minggu, 5 April 2020
Kategori : Artikel Ilmiah
271 kali dibaca

Manusia sang penghuni bumi saat ini sedang merasa cemas, takut dan  sangat merasakan kekhawatiran yang berlebihan dengan hadirnya wabah Corona sejak akhir tahun 2019. Makhluk kecil yang tidak bisa dilihat dengan kasad mata ini telah memporak-porandakan ketenangan hidup manusia. Namun, satu hal yang perlu kita ketahui bahwa kehadiran covid-19 ini tidaklah hadir begitu saja, tapi semuanya ini muncul karena bagian dari Desain negara tertentu dengan memodifikasi genetik flu (Senjata Biologis) sebagai bagian dari perang dan teror dunia dengan menambah asam amino.

Semenjak Covid-19 mewabah di seantero dunia termasuk di Indonesia, persoalan-persoalan baru terus bermunculan. Baik persoalan tentang kebijakan negara tentang Lockdown atau tidak, persoalan penanganan orang sakit, atau mungkin bahkan persoalan berkaitan dengan penanganan jenazah orang-orang yang mati karena penyakit Corona. Dan persoalan yang terjadi seperti ini akan terus bertambah seiring dengan korban yang terus berjatuhan akibat wabah virus ini.

Diakuai atau tidak, kehadiran Covid-19 saat ini malah juga berpengaruh kepada perubahan kebudayaan dan juga kebiasaan baik dari ajaran agama dalam kalangan masyarakat seperti salaman dan silaturrahmi. Dulu, bila kita salat berjama'ah di masjid, jumpa teman dan saling salaman adalah hal yang biasa, namun semenajak virus Corona hadir, salaman antar sesama sudah menjadi barang langka. Kalaupun ada yang salaman, akan dianggap orang yang tidak baca informasi tentang menjaga diri dari penularan penyakit yang sangat ditakutkan ini.

Ketakutan masyarakat terhadap wabah virus ini pada dasarnya adalah karena kurangnya educasi yang diberikan kepada masyarakat oleh yang berwenang, sehingga masyarakat lebih banyak mendapatkan informasi wabah Covid-19 ini dari medsos yang belum tentu banyak benarnya. Dan bertambah lucu serta bingung, ketika masalah wabah Corona ini malah didiskusikan dengan imam meunasah, kawan ngopi, atau mungkin orang-orang yang tidak paham tentang kesehatan.

Hasil diskusi dan tanya jawab yang mereka dapatkan itu akhirnya disampaikan kepada orang lain atau di-posting di media sosial.  Padahal, hasil yang didapatkan dari diskusi tadi belum tentu benar, namun karena sudah diposting ke media sosial, jadilah bahan konsumsi bacaan khalayak ramai. Ketika sudah menjadi bahan informasi atau masukan untuk khalayak ramai, maka jadilah informasi itu sebagai sebuah informasi yang positif yang seakan-akan sudah benar dan harus dilaksanakan.

Bila keadaan seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin akan terjadi kesalah besar dan akan bertambah panik masyarakat. Bila masyarakat sudah panik, maka akan terjadilah kegaduhan yang berawal dari informasi yang salah mereka dapatkan. Kepanikan akan terjadi di mana-mana, masyarakat tidak lagi mendengar arahan tim kesehatan atau bahkan akan mengabaikan intruksi pimpinan daerah yang sudah didukung oleh para ulama dan tim kesehatan.

Contoh kasus yang sangat sederhana dapat kita lihat di seputaran kita saat ini. Kata pemerintah dan ahli kesehatan, stay at home (berada di seputaran rumah) selama beberapa waktu dapat mencegah wabah Corona meluas. Namun, seketika itu pula muncul orang-orang yang menyatakan bahwa kita harus tetap bekerja seperti biasa, karena Corona adalah makhluk Allah SWT dan jangan takut berlebihan. Kalau Allah Menghendaki mati, kita tetap akan mati.

Pernyataan yang terakhir ini sangat bertentangan dengan pernyataan Rasulullah SAW yang menyuruh umatnya untuk lari dari wabah sekencangnya seperti larinya singa. Artinya, Rasulullah mengajarkan umatnya untuk menghindari wabah dengan serius. Sudah menghindari tapi masih kenak juga, maka baru kita menyerahkan diri (tawakkal kepada Allah).

Ungkapan tidak boleh takut kepada wabah Corona karena dia juga makhluk Allah adalah salah besar. Bagaimana jika orang yang ucapkan kata seperti ini kita hadapkan dengan seekor harimau yang lapar, apakah dia akan lari terbirit-birit atau malah dia akan berkata "saya tidak akan mati kalau Allah belum menghendaki"?

Kesalah yang sering terjadi dalam kalangan masyarakat kita adalah ketika kita mencampuradukkan persoalan keyakinan dengan kemaslahatan atau dengan tindakan yang harus kita lakukan dalam kejadian tertentu. Contoh yang lain: di depan kita ada tiang listrik yang mau roboh ke atas kita, apakah kita baca doa terlebih dahulu baru lari, atau pada saat itu kita lari dulu agar tiang listrik itu tidak menghantam kepala kita? Jawaban ada pada diri kita masing-masing. Namun menjawabnya dengan akal sehat dan pikiran yang jernih dan penuh ilmu tentunya.

Peugot Beulacan dan Asam Udeueng

Awal-awal himbauan untuk tetap berada di rumah muncul pro dan kontra. Baik dalam kalangan masyarakat biasa, akademisi dan juga orang-orang kantoran. Semua mengekuarkan uneg-unegnya di medsos yang menganggap kebijakan berada di sekitar rumah adalah pengekangan. Seiring waktu, lambat laun  intruksi stay at home ini terasa sangat indah.  Bagi PNS yang dulu nya dikejar waktu untuk cepat-cepat mengejar absen di pagi hari dengan menyerahkan anak-anaknya di urus   oleh orang lain, saat ini malah merasakan hal yang berbeda. Bangun pagi lebih santai, anak-anak sempat sarapan pagi dan tentunya suami juga sudah sering bersama-sama.

Di sisi yang lain, anak-anak sangat menikmati kebersamaan ini. Jarang-jarang kondisi ini mereka dapatkan. Selama orang tuanya sering berada di rumah, anak-anak dapat merasakan kepedulian lebih dari orang tuanya.  Sesekali si anak merasakan nasi disuap oleh ibu dan kadang juga si suap oleh si ayah, dan ini bisa jadi belum pernah terjadi sebelumnya. Dulu pendidikan diserahkan sepenuhnya kepada guru-guru di sekolah, hari ini ayah dan ibu bisa merasakan bagaimana mendidik anak-anaknya selama mereka full berada di rumah.  Dan harapan positif yang bisa kita ambil adalah, saat sekolah nantinya kembali normal, guru-guru akan lebih disanjung dan akan lebih dihormati profesinya sebagai pendidik.

Hikmah lainnya yang didapatkan selama masa berlaku intruksi tetap di rumah adalah, anak-anak gadis sudah bisa belajar memasak, karena jelang siang ibunya selalu menyiapkan makanan siang untuk di makan bersama. Jadi, tidak salah bila kebersamaan selama di rumah diajarkan mereka cara masak asam keu eung, peh beulacan, atau cara  peh asam udeung. Dan ilmu memasak ini tentunya sangat jarang mereka dapatkan di sekolah.

Khususnya untuk ayah-ayah yang dulunya sering berada di luar rumah, selama ini mereka bisa membantu anak-anaknya menyelesaikan PR yang diberikan guru lewat WhatsApp. Di sini akan terkesan positif bagi anak-anak bahwa ternyata keberadaan orang tua di rumah sangat bermakna dalam kehidupan mereka. Bisa makan bersama, bisa tanya jawab dan juga bisa berdiskusi. Sebuah fenomena baru yang selama ini terkesan diabaikan.

Psikosomatis Berat akan Berujung di Kamar Jenazah

Banyak penderita covid-19 tidak mampu bertahan lebih lama karena akibat psikologis yang amat rapuh. Tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama untuk sembuh dikarenakan psikosomatis yang berat. Dan akhirnya, perjalanan sakit pasien ini berujung di kamar jenazah. Pertanyaannya, Kenapa mereka susah disembuhkan? Jawabannya, karena imun tubuhnya menurut drastis yang disebabkan oleh rasa takut lebih besar dari penyakit yang ada.

Untuk menyikapi persoalan psikologis ini, Ibnu Shina pernah berkata: "Kepanikan dan Kegelisahan adalah Separuh dari Penyakit, Sementara Ketenangan dalam Menghadapi Masalah adalah Sebagian dari Obatnya, dan yang Harus diketahui Bahwa Kesabaran serta Keikhlasan itu adalah awal dari Kesembuhan".

Dari nasehat Ibnu Shina ini kita dapat menyimpulkan bahwa penyakit Covid-19 yang berbahaya ini dapat disembuhkan apabila hati penderitanya diliputi ketenangan dan tawakkal kepada Allah SWT sambil tetap berusaha dengan mematuhi semua anjuran dokter dan tim medis. Menggantungkan diri dan hidup sepenuhnya kepada Allah dalam keadaan tenang dan tidak panik insya Allah akan menyembuhkannya dari sakit. Hal ini terjawab bahwa, yang menyembuhkannya sebenarnya bukanlah obat, tapi Rahmat Allah pada mereka yang mau mendekatkan diri kepada-Nya.

Panik Bisa Menghadirkan Kemusyrikan

Modifikasi senjata biologis yang diberi nama dengan covid-19, tidak hanya menebarkan ketakutan dalam kalangan masyarakat dunia dengan cara panik massa melalui media-media, tapi juga berimbas dalam masyarakat beragama. Ada daerah saat ini di Indonesia yang masyarakatnya beragama islam, mengusir wabah Corona malah menghadirkan Kemusyrikan. Benarkah Corona akan hilang dan terusir  dengan masakan sayur lodeh atau sayur asem seperti dilakukan di Jokjakarta? Atau haruskan kita meyakini bahwa dengan memakai Inai (on kaca) di jari seperti dilakukan di beberapa daerah di Aceh akan tidak kenak virus Corona?

Kalau kita tanyakan kepada mereka kenapa hal ini dilakukan, jawabannya adalah untuk mengusir bala. Akhirnya iblis tepuk tangan. Syaithan bergembira karena kita kenak tipu daya mereka dengan rasa was-was yang berlebihan yang diteror iblis dengan yuwaswisu fi sudurinnas. Padahal kita tahu bahwa syirik itu akan menghancurkan semua amalan kebaikan kita. Oleh karena itu, waspadalah dan jangan sampai kita kalah dengan tipu daya iblis lewat teror ketakutan yang berlebihan.

Selalulah kita dekatkan diri kepada Allah SWT dengan selalu berzikir dan beribadah. Ikuti nasehat ahli kesehatan, putuskan mata rantai penyebaran virus dengan tetap berada di sekitar rumah. Selama di rumah, ajarin anak akhlak, tata Kerama dan sopan santun.  Untuk anak gadis mari kita ajarin cara peh beulacan dan bicah asam udeueung Sehingga masa-masa stay at home akan merasa gembera, indah dan penuh kebersamaan.

* Penulis, Mahasiswa Program Doktor di UIN Ar-Raniry dan Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Aceh


Sumber :

Penulis :

Editor :

Berita Terkait

BERITA POPULER
BERITA TERBARU
ARSIP